Need, Want, or just another Old Habbit?
Hmm.. Barusan aku baru aja discuss bareng salah satu temanku di BMK Ciwalk (yang ngerasa, sok aja komen di bawah postku, aku kan nggak nyebut merek, haha..) Nggak, bukan ngebahas masalah isu internasional atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan hubungan internasional dan tetek-bengeknya.. *haha, gila aja udah cukup 4 hari seminggu..*
Anyway, yang ku bahas adalah tentang hati vs pikiran rasional. Apa yang terjadi kalo kita dihadapkan dengan 2 situasi ketika harus memilih ego sendiri atau perasaan banyak orang di dekat kita yang resikonya banyak yang terluka, misalnya:
- Kita bersama orang yang kita ‘cinta’i, tapi banyak pihak yang terluka termasuk keluarga (bukan karena masalah yang prinsipil, tapi cuma karena masalah timing.. masalahnya kita udah terlanjur memilih ber-keluarga) — intinya kita pake hati (hati kita mencintai seseorang) walopun kadang namanya egois
- Kita memilih keluarga (yang notabenenya udah memilih dan mungkin kita pilih sejak awal) dan menolak untuk membuat mereka kecewa, dan mengorbankan orang yang kita ‘cinta’ — intinya kita pake pikiran rasional (nggak mo ngecewain orang-orang)
Dan aku juga bingung (bias), bagaimana orang-orang memilih pasangannya karena rasa ‘cinta‘ itu memang datang dengan sendirinya atau cuma menginginkan dia sebagai ‘tameng‘ yang memberikan rasa aman (padahal mungkin aja nggak kita cinta).
Duh! Kok aku ngerasa istilah ‘cinta‘ itu terlalu dangkal ya? Mungkin ada yang punya terminologi lain dimana di dalamnya ada pengorbanan, sayang (bukan hanya sekedar peduli), dan … mm aku susah deskripsiinnya. Gimana yaa, nggak rela untuk dilepasin, tapi nggak tega juga untuk terlalu memegangnya erat-erat. Nah loh aku bingung sendiri. Yaudah kalo ada yang ngerti yaa sukur, kalo nggak yahh yo wis lah, aku sendiri juga bingung.. Haha..
Sebenarnya pengen ku ceritain kisah seseorang di sini, cuma karena orangnya adalah orang terdekatku, nggak mungkin ku umbar juga. Intinya dia dihadapkan pada pilihan di atas. Pada akhirnya sih dia memilih keluarganya (yang udah lama dia miliki), dan dia nggak menyesal karena hal itu. Hebatnya lagi, dia masih bisa nggak menyesali keputusannya dengan tetep berpikiran positif (emang nggak diharuskan menyesal juga sih..) dan bahkan masih bisa berhubungan secara profesional dengan ‘the-one-she-was-loving-with’ (yah gitulah kira-kira). Wow! What a professionality!
Intinya sih, aku juga jadi bertanya-tanya sendiri aja, gimana caranya ngebedain antara rasa ‘butuh‘ (yang bener-bener butuh) dengan sekedar ‘ingin‘ memiliki atau dengan old habbit.. Siapa tau, dengan mengetahui hal itu, aku bisa mencari pembenaran (atau penghiburan) bahwa dengan ‘yang-satu-ini’ aku hanya terbiasa.. bukan butuh.. Kalo ternyata hanya terbiasa, solusinya kan gampang, hilangkan aja kebiasaan itu. Tapi kalo ternyata butuh, yaah.. mungkin harus diselidiki, primer atau sekunder.. baru kemudian ditindaklanjuti. Haha!
Cinta itu (katanya sih) nggak harus memiliki..
-ney-
Tak Bisa MemilikiSamsonsApakah yang engkau cari
Tak kau temukan di hatiku
Apakah yang engkau inginkan
Tak dapat lagi ku penuhi
Begitulah aku
Pahamilah akuMungkin aku tidaklah sempurna
Tetapi hatiku memilikimu sepanjang umurku
Mungkin aku tak bisa memiliki
Dirimu seumur hidupku
Dirimu seumur hidupku

gag ada tuh yg ngrasa
haha!
stelah gw pikir2
terserah itu cuma sekedar cari keamanan (kepastian)
ato memang sayang (cinta?wuih…)
yang penting bahagia…
haha..
yg gag banget itu
kalo milih yg manapun
dan hidup jd tertekan…
xsak said this on September 23, 2008 at 4:05 am
wuidiihh
bener juga tuh..
pursuit of happyness..
ney said this on September 23, 2008 at 10:00 pm