Rahwana lebih jantan dari Rama!!
Nulis lagi.. Ini postku yang ke-99, satu post lagi bakal dapet payung cantik nih. *haha* Tuh bener kan teoriku tentang meningkatnya kadar stress, maka meningkat pula keinginan untuk menulis blog. Apalagi I’ve learned soo many things today. Huah! Lumayan agak menjadi pencerahan, suatu hal yang jarang ku dapatkan setelah lama meninggalkan memvakumkan diri dunia paskibra 78, abis gimana juga, aku jauh di Bandung, boro-boro ke 78, pulang ke rumah sendiri aja rasanya susaaahh banget nyisain waktunya. Sebenarnya masih besar sih keinginan untuk ketemu lagi sama mas-masku di sana, apa jangan-jangan mereka sudah melupakanku ya.. Agak minder juga nih sebenarnya *hehe*, jangan-jangan waktu aku ke sana, aku akan teralienasi (pinjem istilahnya ya mas) karena udah nggak ada yang kenal sama aku. Jadi kangen.. *huhu*
Anyway, pencerahan yang baru aja ku terima hari ini adalah tentang feminisme dari mas Nyoman. Satu cerita yang masih terngiang-ngiang (banget) sampe sekarang adalah melihat cerita ramayana (Rama dan Sinta) dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun sebenarnya anak-anak HI yang ikut kuliahnya mas Nyoman jam 7 udah pada tau, tapi aku rasa bahkan semua orang (sukur-sukur kalo ada yang baca blogku) perlu mengetahuinya.
Jadi, awalnya, dosenku ini memutuskan lebih mengidolakan tokoh Rahwana ketimbang Rama, yang selama ini kita idolakan, setelah membaca Herald Tribune. Kenapa? Karena, menurut beliau, Herald Tribune udah bikin sudut pandang berbeda tentang kisah dua sejoli ini, dengan mengatakan Rahwana jauh lebih baik dan lebih ‘laki-laki’ ketimbang Rama.
Tapi, setelah beliau cerita, kayaknya emang ada benernya sih. Fakta-fakta yang membuktikan bahwa Rama nggak ‘jantan’ atau whatever itulah istilahnya dibandingkan Rahwana, antara lain sebagai berikut:
- Menurut sumber yang dikemukakan Herald Tribune, Rahwana secara jantan telah melamar Sinta, namun tidak disetujui oleh ayah Sinta karena Rahwana adalah seorang raksasa. Hal ini, bahkan dilakukan jauh sebelum Rama mengenal Sinta pada suatu sayembara di kerajaan Mithila.
- Masih menurut sumber dari Herald Tribune. Kemudian, kerajaan Mithila (tempat Dewi Sinta berada) mengadakan sayembara. Melalui sayembara itulah Rama sebenarnya mendapatkan Sinta. Hanya dengan membengkokkan busur
Siwa, yang sebenarnya bukan usaha besar mengingat Rama adalah anak dari
Dasarata, yang juga orang sakti sampe-sampe angkatan perangnya sempat
ditakuti berbagai negara dan tidak pernah kalah dalam pertempuran. Sementara Rahwana yang juga mengikuti sayembara tersebut, terlambat datang, dan didahului oleh Rama. - Namun, Rahwana tidak lantas menyerah begitu saja. Setelah mengetahui Sinta hidup di hutan bersama Rama, Rahwana berusaha mengambil Sinta (dan menurutku, laki-laki macam apa yang meninggalkan istrinya di hutan hanya bersama adiknya, Laksmana, yang menurutku agak bego, karena akhirnya diapun meninggalkan Sinta sendirian). At least, Rahwana masih berusaha mendapatkan cintanya, walaupun caranya salah. Mungkin dia udah frustasi *haha*
- Alih-alih berusaha mencari istrinya sendiri, Rama malah menyuruh Hanoman (emang sih Hanoman utang budi, tapi bukankah kalo sebaiknya Rama yang menyelamatkan istrinya sendiri itu lebih jantan bagi seorang suami atau bahkan seorang laki-laki?!). Sebaliknya, Rahwana memboyong Sinta ke kerajaannya, Alengka (yang digambarkan sebagai taman yang indah).
- Nah, ada yang harus digarisbawahi. Menurut Herald Tribune, tidak ada dalam cerita Ramayana manapun yang mengatakan Rahwana pernah melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap Sinta, yang juga membuktikan Rahwana benar-benar mencintai Sinta, bukan sekedar nafsu belaka.
- Poin yang berikut ini menurutku yang paling menyentuh. Rahwana itu padahal diceritakan sebagai raksasa yang sakti mandraguna. Jadi, sebenarnya gampang banget kalo dia mengubah dirinya menjadi apapun (buktinya dia bisa berubah jadi Brahmana dalam usahanya merebut Sinta dari Rama), termasuk pangeran yang ketampanannya melebihi Rama. Namun, dia tidak pernah melakukannya, karena sebenarnya Rahwana ingin menunjukkan dirinya, apa adanya kepada Sinta. THAT’S THE MAN! (hatiku meleleh, kawan.. bahkan aku masih merasakan degup jantungku waktu denger poin ini untuk pertama kalinya)
- Ketika perang terjadi, ketika Hanoman memporakporandakan Alengka, termasuk membunuh semua keluarga Rahwana, Rahwana tetap kekeuh mempertahankan cintanya, bahkan sampe titik darah penghabisan (dikejar Kyai Dangu milik Rama, dan akhirnya mati terjepit di tengah dua gunung kembar atau ada versi lain yang mengatakan mati karena senjata Rama, Brahma Astra).
- Yang tambah ngeselin, setelah mendapatkan Sinta kembali, bukannya bahagia, lantas Rama malah nggak percaya Sinta masih setia, dan hebatnya lagi Rama malah sangsi atas kesucian Sinta, dan memutuskan untuk membakar Sinta! (Suami macam apa yang bahkan nggak punya prinsip dasar sebuah hubungan, yaitu kepercayaan dan malah memutuskan membakar istrinya hanya demi ego semata!! Coba kalo sekarang ada suami kayak gitu, apa nggak langsung dipenjara?) Yaah, walaupun kecurigaan Rama itu nggak terbukti, karena Sinta nggak bisa terbakar. Yaiyalah, orang Rahwana nggak pernah ‘ngapa-ngapain’ Sinta. Itu kan bukti juga kalo Rahwana masih respect sama Sinta sebagai perempuan.
Jadi gitu deh. Banyak kan buktinya? Yaah, balik lagi sih ke persepsi masing-masing. Kita juga nggak tau perasaan Sinta yang sebenarnya, apakah dia mencintai Rama atau Rahwana. Nggak ada yang menceritakan perasaan Sinta, toh dia menikah dengan Rama atas dasar keputusan ayahnya mengadakan sayembara dan kebetulan Rama-lah yang memenangkannya (yang menurutku, jadi Sinta menikah bukan atas dasar suka sama suka, tapi lebih karena menurut pada perintah ayahnya). Coba Sinta sekarang ada di sini, pasti bisa ku interview. Haha, ada-ada aja. Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah masih mengidolakan Rama? Perlu dipertanyakan lagi deh kayaknya.

ngomong2 kalo lo shinta ney, rama misalnya (MISALNYA) mr.england trus si rahwana itu Tukul arwana, lo pilih mana?
sulit…sulit… ahahhahaha
なお said this on April 29, 2008 at 7:33 am
maunya mr. tukul “england” arwana.. *hehe*
nEy said this on May 10, 2008 at 5:39 am
wakakakakakakakaka…… ikutan numpang ngakak
dhasamuka said this on January 4, 2009 at 2:48 am